Kamis, 26
November 2015
Patah berulang kali
By:
Utari Nur Madani
@UteMinoz
Dibilang lelah tapi nyatanya kuterus mencari
Dibilang bosan tapi nyatanya aku tetap melakukannya
Karena apa?
Karena mereka mereka selalu datang silih berganti
Yang kuingin
Tak usah datang jika harus pergi
Tak usah mendekat jika harus menjauh
Aku sakit
Kenapa harus patah lagi
Aku ingin, tapi aku tak mampu
Hati usang ini kini patah lagi
Meradang...
Terhempas tersapu angin dan hilang lagi
Aku putus harapan
Aku sakit
Luka lama kini menangis lagi
Aku tak inginkan ini lagi
Kini aku bosan jika harus patah lagi
Kenapa??
Kenapa harus engkau yang patahkan hati ini?
Jika itu yang akan kau lakukan, kenapa kau harus
menerbangkanku
Kenapa kau harus menebar bunga bunga kasih
Mengapa kau memberi harapan
Kenapa kau memberi rambu jalan
Ternyata aku salah
Itu semua hanya sandiwara belaka
Aku salah
Itu hanya kebiasaan lelaki saja
Aku salah
Aku yang terlalu berharap
Dan kini aku patah lagi
Patah dan kecewa lagi
---
Dan berikut
adalah tulisanku yang saya tulis tepatnya di bulan September 2016 lalu. Isinya
seperti ini:
Bahas Bahasa
By:
Utari N. Madani
Bahasamu bahas bahasanya
Aku kamu kemudian menjadi mereka, bukan kita
Berlabuh penatku dikelambu bahasamu
Akar hitam menjalar liar didinding kepala dan
semakin liar merasuk dalam dada
Entah apa entah siapa
Senjamu yang telah mengusikku
Kopi hitammu yang menyadarkanku
Tak perlu pencitraanmu atau bahkan cerita omong
kosongmu
Matahari menukik, nyaris tenggelam dalam awan
batu yang mengelabu pekat di ufuk barat
Tak ada senja, atau bahkan jingga
Aku bersama ampas kopi pahit yang telah
tenggelam bersama perasaan yang kian dalam
Terlupakan
---
Lalu aku harus
bilang apa coba? Bilang w.o.w? apa ini murni rencana Tuhan? Atau hanya
kebetulan saja? Rasane nek iso mbok yo
sepisan pindo wae, lha kiye wis ping pat lho. Empat orang melakukan hal
yang sama hampir ditiap tahunnya. Terus
kiye jenengane apa? Ujian? Godaan? Apa aku sing terlalu goblok bola-bali ke-pe
de-an? Kepenak dilombo?
Melihat kejadian
seperti ini, saya sebagai wanita lemah ini hanya bisa memetik setitik hikmah
dari derasnya hujan ujian hidup. Yang kalau saya jabarkan kurang lebih seperti
ini:
Diperjalanan yang
entah dimana ujungnya ini, sering kali godaan memburu, keimanan menjadi lesu,
hati dipasang nafsu, dan disaat lain pula keinsafan bertamu. Keberadaanku nyata
dihadapanMu, keadaanku tidak tersembunyi dariMu. Aku sering mencari cinta selainMu,
sedangkan cintaMu itulah yang kekal selamanya. Aku sadar. Siapalah aku untuk
memiliki cintaMu. CintaMu itu terlalu agung YaAllah. Walau apapun, aku ingin
tetap menyintaimu. Karena aku yakin, cintaku pasti dibalas suatu hari nanti.
Karena Maha SuciMu Tuhan, engkau tidak penah mengecewakan perasaan
hamba-hambaMu.
Dunia hanyalah
fana, akhirat yang abadi. Tapi karena dunia-lah keadaan akhirat yang abadi
seperti apa yang akan kita rasakan. Berbahagialah. Karena mungkin bukan saya
yang akan membahagiakanmu, bukan pula pelangi yang akan menghiasi kisahmu,
melainkan saya yang sudah bodoo amattt peduli siapa dia siapa itu, udu urusanku!
-Cinta kepada Allah adalah puncaknya cinta.
Lembahnya cinta adalah kepada sesama-