Selasa, 15 Maret 2016

Tango, berapa lapis? Ratusan...

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karuanianya kepada kita semua, ehhh oh iya.. maksudku itu pertama-tama aku mau ngenalin diri dulu. Okeh menurut akte kelahiran yang dikeluarkan oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Banyumas menyatakan bahwa pada 18 tahun yang lalu tepatnya 15 Maret 1998 telah lahir seorang putri yang cantik nan jelita yang bernama Utari Nur Madani binti Nasim dengan selamat  melalui proses ngeden, ehh.. melalui proses normal di rumah dukun bayi terdekat. Cewe yang sedang meniti karir percintaan ini seorang siswa kelas 12 di salah satu SMA negeri dekat tempat tinggalnya. Ahh lama, intinya aku lagi pengin mengungkapkan isi hati dan curahan perasaan yang sedang berkecamuk didalam sebuah struktur jaringan yang membentuk suatu organ berupa otak (kalimat yang sangat tidak efektiv, blas). Okeh mari kita awali tulisan ini dengan bacaan Basmallah bersama-sama, “Bismillahirrohmaanirrokhim” acara selanjutnya adalah penyampaian sebuah masalah yang akan akan disampaikan oleh saya sendiri, waktu dan tempat sudah saya sediakan sendiri, jadi gabakal ngrepotin siapapun termasuk kamu wahai pujaan hati, ceiileeeh... ehmm ehmm


Kadang kuberpikir mengapa bisa aku mencintaimu, mengapa aku bisa menyayangimu. Memang awalnya biasa saja. Kamu kakak kelasku sedari SD-SMP, aku tau kamu, ya gitu, ya biasa saja. Kenapa coba... ahh aku memang sudah kejebak perasaan. Masa aku takut kehilangan kamu, jal, kan ga lucu. Padahal kamu itu ya biasa-biasa aja, kaya aku gini, bukan anak kekikinian, anak hits, atau bahkan kaum sosialita, alay baru iya, tapi yang lebih mahal banyak kan? Krikk-krikk-krikk

Okeh, kamu itu, iya kamu budd.. sabar dong, kamu itu Rifki Dwi Pambudi, tapi aku lebih suka panggil kamu budi. Lah daripada tenggo? Jal.. namamu bagian mana yang berlapis-lapis coba? Aku kasih tau ya, namamu itu cuma 3 kata, cuma Rifki, Dwi, sama Pambudi, gak sampe ratusan kan, gaperlu dipanggil tenggo kan bisa. Kalau sayangmu ke aku yang berlapis-lapis lhaa... baru bagus. Tapi ya itu... teman-temanmu, temannya temanmu, temannya bukan temanmu sampai orang sekampung taunya namamu ya tenggo, malah kayanya gak ada yang tau nama aslimu siapa. Kalau kegitu kayanya kamu perlu melakukan pers converence guna melakukan klarifikasi dan pengembalian nama baik deh, penting banget soalnya. Kenapa penting? Iya jelas penting banget lah. Ntar kalau kamu mau nikahan terus nyebarin undangan, terus kamu tulis:



Menikah :
Rifki Dwi Pambudi
Dengan
Seorang Wanita (masukan nama yang anda inginkan):D

Nah kalau semua orang taunya namamu itu tenggo, lah terus kamu tulis diundangan kaya yang diatas, saya memprediksi dengan tidak sangat yakin bahwa tidak akan ada teman-teman anda bahkan sanak saudara anda yang datang menghadiri pesta pernikahanmu. Masa?? Jahat banget si prediksimu? Jelas, gimana mereka mau pada dateng coba, orang mereka tidak tau orang yang mengundang mereka. Setelah mereka menerima surat undanganmu terus mereka baca terus mereka akan saling mencurahkan segala tanda tanyanya terus mereka berpikir gini: “Siapa nih yang mau nikahan. Emang kita saling kenal. Di daftar orang-orang yang kondangan dinikahanku kemaren aja gak ada yang namanya Rifki, berani-beraninya dia ngundang aku, mana lagi puyeng gak punya duit, ditambah banyak orang hajatan” terus setelah mereka berpikir kaya gitu mereka akan langsung membuang surat undangan anda dan tidak akan pernah hadir dalam pesta pernikahan anda. Gak percaya? sama, saya juga. Tapi kamu gak mau kan terjadi hal yang demikian? Maka dari itu penting anda melakukan saran saya tadi. Tapi kalau kata anda “tenggo” adalah sebuah nama yang membawa hoki (hahh?? Apaan si itu hoki? Aku aja gak tau sok-sokan nulis hoki) dan anda bangga dengan nama itu ya gak perlu ngikutin saran saya tadi. Terus masalah undangan pernikahan? Yap tepat! Anda memang sangat cerdas. Tinggal dikasih dalam kurung dibelakan nama Rifki, gitu aja repot. Yang ngrepotin itu tuh saranmu yang pake acara jumpa fans segala, klarifikasi apalah-apalah, dasar kucrut, lu kira gak ribet menyakinkan para khalayak umum? Belum tentu mereka mengerti apa niat kita. Lah kalau tanggapan mereka “ahh.. paling cuma mau tenar aja, buat mendongkrak popularitas” jal... bagus kan? Lambemu bagus! Apanya yang mau didongkrak jal? Apanya yang ditenarin jal? Ini kan bukan promosi produk jajan Tango, pufff. Iyaiya maaf, aku yang salah. Jadi aku juga harus ngikut manggil kamu tenggo?   Gak ah, aku milih manggil kamu Budi aja yaah... Love you budi

Tapi sekedar info aja, aku mau mengungkap dalang dibalik nama tenggo. Setelah melewati penelusuran yang sulit dan panjang, didapatkan sebuah hasil yang sangat rinci dan mendasar. Ternyata, awal kata nama tenggo muncul dari seorang wanita setengah baya yang tidak lain dan tidak bukan adalah budhe nya sendiri. Jadi, diceritakan bahwa dimasa kecilnya dulu yayangku ini suka melamun sendirian gak jelas gitu. Aneh sekaligus miris bukan? Masa dimana kebanyakan anak-anak menghabiskan waktu masa kecilnya untuk bermain, dia sudah melamunkan banyak hal. Nglamunin apa coba? Apa iya kecil-kecil udah punya banyak hutang di warung langganan jajannya? Terus kamu mikir keras gimana cara dapetin banyak uang biar bisa melunasi hutangmu sekaligus bisa puas jajan? Terus sebuah cara gak ditemukan? Terus kamu berpikir gimana cara jualan mie ayam sendiri? Atau, gimana cara nyuri uang di brangkas warung mie ayam papihmu yang dikunci dengan password? Duhh... bukan maksud nethink-ing kamu ya beb, aku cuma heran aja sama kamu yang suka melamun. Hayoo jujur nglamunin apa sih? Bilang aja, gapapa kok. Aku bisa jaga rahasia, sueerr.. kalau kamu malu, dibisikin aja juga gak apaapa. Apahhh??? Jadi kamu nglamunin cabe-cabean? Asstaghfirullah bud bud... istighfar.. nyebut... sama sambel aja kamu ga berani masa berani mikirin cabe cabea an. (Aku giniin kamu jangan terus putusin aku yah bud!? Ahahaaa.. justkidd, sumpah. Mwahh :*)
Kenapa jadi dipanggil tenggo jal? Apa hubungannya sama melamun? 

Jadi menurut ceritanya dia, si budhe-nya ini nyebut dia tlanga-tlongo (hah? Bukannya planga-plongo?) apalah itu, ya sudahlah, intinya daripada susah nyebut itu, akhirnya tercetuslah kata tenggo dari bibir budhe-nya. Sejak kejadian itu, mulai dari papih mamih nya dia sampai bukan siapa-siapanya dia, semuanya manggil tenggo.

Demikian kira kira awal mula terbentuknya nama tenggo. Apapun itu namamu, yang penting satu, hatimu hanya untukku. Okeh, sekian pembahasan yang gak penting dari saya, mohon maaf apabila mengganggu mata hati anda.
Salam kangen buat kamu disana...







Tidak ada komentar:

Posting Komentar