Senin, 17 Oktober 2016

Sebatas Pelangi Bahasa



Senja yang telah mengajarkanmu menikmati keindahan dari kejauhan. Namun sebaliknya, senjalah yang hanya bisa kau nikmati disaat jingganya saja. Setelah itu kau masih bisa menikmati gemerlapnya bintang, terangnya rembulan, dan hangatnya mentari.

Kau mungkin memang menikmati jingganya dan memaknai setiap proses tenggelamnya. Lalu masih bisakah senja kau nikmati? Senja tak dapat kau nikmati setiap saat disepanjang waktu. Senja hanya kau nikmati disaat kau mau. Indahnya senja hanyalah jingganya.

Lalu, untuk apa kau menikmati senja? Mengagumi keindahannya, melihatnya dari balik gunung, diantara semak belukar? Jika dua telinga dan waktumu bersama pencitraanmu.

Masihkah kau menikmati senja disaat malam tiba? Masihkah kau merindukan jingganya disaat pagi menyapa?

Tak ada senja, atau bahkan jingga


Senja yang menghiburmu dikala penat siangmu, dan mengantarmu pada mimpi indahmu.

Senjamu yang telah mengusikku. Bahasamu, bahasaku, lalu bahasanya. Aku, kamu, kemudian menjadi mereka, bukan kita. 

Senjamu yang mengajarkanku. Masihkah menikmati jingganya senja dibalik pegunungan, diantara semak belukar? Dengan senyum manis sebagai penawarnya? Dan berharap esok kan datang dengan sama indahnya?

Kopimu yang telah menyadarkanku. Cukuplah kopi pahitmu, tak perlu pencitraanmu yang membuat akar hitam menjalar liar didinding kepala dan merasuk dalam dada.

Bahasamu bahas bahasanya. Ceritamu bercerita ceritanya, bersama dua telinga dan waktumu dengannya.

Suasana yang kini kian beku, tanpa angin dan desahan napas. Matahari menukik, nyaris tenggelam dalam awan batu yang mengelabu pekat di ufuk barat. Tak ada senja, apalagi jingga. Hanyalah ampas kopi pahit yang telah tenggelam bersama bahasa yang kian dalam untuk dilupakan.

Layaknya pelangi, indahnya hanya untuk mewarnai hari. Mungkin bukan aku yang menjadi alasan bahagiamu, siapalah aku, bukan pula pelangi yang akan menghiasi kisahmu. Entah apa entah siapa.

Tetaplah bahagia bersama satu hati yang kau idamkan, dan satu do’a yang selalu kau aamiinkan. Semoga dengannya tak ada kemustahilan buat diupayakan.

Berbahagialah...

2 komentar: