Apakah kamu tau
bahwa aku menunggu?
Mungkin bagimu
sederhana; tiada kabar berarti selesai segalanya. Meski nyatanya, berbeda.
Tidak ada perjuangan tanpa kesabaran. Penantian adalah salah satu upayanya.
Sampai pada kalkulasi jam demi jam yang berganti hari aku menghitung dengan
satu pertanyaan “Sampai kapan?”
Apakah kamu tau,
bahwa perempuan adalah mahluk perasaan?
Mungkin bagimu
sederhana; tidak berikatan apa-apa berarti tidak mempertanggung jawabkan
kata-kata. Aku tidak percaya. Aku masih memiliki keyakinan bahwa kamu tidak
sebegitu KEKANAKAN. Hanya saja, aku masih seperti perempuan kebanyakan yang
terlalu berperasaan dan sudah memilih; untuk memiliki keyakinan.
Sesungguhnya, tidak
semudah itu bertahan tanpa kepastian dan tampak seperti dilepaskan. Bagiku pun
mungkin berbeda. Aku menunggu dalam diamku. Jika bagimu tidak cukup, maka aku
tidak tau lagi harus memperlakukanmu bagaimana.
Dan selalu saja,
dengan bodohnya aku masih ingin menunggu. Sedikit lebih lama lagi, JIKA
MEMUNGKINKAN.
Kularungkan perasaan.
Kularungkan harapan. Kularungkan ketergesaan. Selamat menikmati kesibukan!
Aku yang terlalu
angkuh, dan kamu yang terlalu pengecut untuk mengatakan semua yang telah
terkatakan. Aku menyangkal segala perasaan hanya agar kau merasa nyaman. Meski,
sulit sekali untuk merasa yakin bersamaan dengan mematikan perasaan. Ah, bukan
mati. Hanya ditekan dalam-dalam. Dikubur hingga waktu mengatakan, memang sudah
saatnya dilupakan.
![]() |
| Berlabuh penatku, dikelambu bahasamu. |
Menunggu. Keyakinanmu
belum sebesar aku. Menunggu. Keinginanmu belum sesesak aku. Menunggu. Ah,
jangan membandingkan. Bukan memaksakan.
Tetap saja, akulah
rindu yang tak mengusahakan temu. Aku hanya paham benar bahwa pertemuan mampu
memporak-porandakan perasaan.
~anteb

Tidak ada komentar:
Posting Komentar